
Kisah Margaret – Di sudut timur Indonesia, jauh dari gemerlap Jakarta, ada seorang remaja bernama Margaret yang membuktikan bahwa harapan bisa tumbuh bahkan di tanah paling keras. Ia bukan anak pejabat, bukan anak orang berada. Ia anak dari seorang kuli bangunan, tinggal di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Tetapi impiannya tak terbatas oleh kondisi ekonomi—ia bercita-cita masuk Universitas Indonesia.
Dihina, Dicemooh, Tapi Tak Mundur
Margaret bukan hanya berjuang melawan kemiskinan. Ia berhadapan dengan satu musuh yang lebih tajam dari sekadar keterbatasan materi: pandangan merendahkan orang-orang di sekitarnya.
Guru-guru yang seharusnya mendukungnya justru meremehkannya. Kata mereka, untuk apa bermimpi tinggi jika keluarga tidak punya uang? Tetangga juga ikut mengejek. Mereka menganggap Margaret terlalu “gaya” untuk orang miskin. Ada ucapan yang menyakitkan: “Orang miskin kok sok mau kuliah di Jakarta?”
Kalimat-kalimat seperti itu bukan hanya menyakitkan, tapi juga bisa membunuh mimpi. Tapi Margaret tetap diam. Ia menyimpan impiannya dalam hati—seperti bara yang terus menyala meski tertutup abu.
Diam-diam Mendaftar di Dini Hari
Menjelang penutupan pendaftaran Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), Margaret mengambil langkah diam-diam. Ia membuka laptop di tengah malam, tepat pukul 02.00 dini hari. Semua orang di rumahnya sudah tidur. Tak ada yang tahu bahwa ia sedang membuka portal pendaftaran.
Ia hanya memilih satu jurusan: Psikologi Universitas Indonesia. Tanpa cadangan, tanpa ragu. Baginya, ini bukan perjudian, tapi pembuktian.
Keputusan itu bukan hanya tentang pendidikan. Itu tentang melawan batas yang selama ini dilekatkan padanya—oleh lingkungan, oleh sistem, bahkan oleh orang-orang yang seharusnya mendukung.
Pengumuman yang Mengubah Segalanya
Ketika hasil pengumuman keluar, Margaret dinyatakan lolos UI. Tangis bahagia dan keharuan menyelimuti keluarga. Kakaknya bahkan rela bekerja keras demi bisa mengumpulkan biaya keberangkatan Margaret ke Jakarta. Karena di balik keberhasilan, ada realitas lain yang menyusul: berkuliah di UI bukan hanya soal diterima, tetapi juga soal sanggup hidup di kota yang mahal.
Dan lagi-lagi, tantangan tidak berhenti. Tetangga-tetangga mulai melontarkan komentar seperti, “Miskin kok banyak gaya.” Seolah keberhasilan Margaret adalah sesuatu yang patut dicibir, bukan dirayakan.
Tapi bagi Margaret, komentar-komentar itu adalah bahan bakar semangat. Ia melangkah, bukan untuk membuktikan kepada orang lain, tapi kepada dirinya sendiri—bahwa ia layak bermimpi, dan layak meraih mimpi itu.
Pendidikan sebagai Tangga Keselamatan
Kisah Margaret mengingatkan kita bahwa pendidikan bisa menjadi tangga keluar dari kemiskinan. Tapi lebih dari itu, pendidikan adalah alat pembebasan—pembebasan dari stigma, dari pembatasan sosial, dari keraguan yang dilontarkan bahkan oleh orang-orang terdekat.
Di Indonesia, masih banyak anak-anak seperti Margaret. Pintar, bersemangat, tapi terhalang oleh persepsi bahwa “anak miskin tak perlu sekolah tinggi.” Padahal, mereka adalah aset bangsa. Mereka hanya butuh satu hal: kepercayaan.
Margaret tak hanya percaya pada dirinya. Ia berani melawan arus dan mengambil langkah saat semua orang meragukannya. Dan justru karena keberaniannya itulah, hidupnya berubah total.
Uluran Tangan yang Menyentuh
Cerita Margaret menyebar di media sosial, dan viral. Dari sana, muncul tangan-tangan yang ingin membantu. Salah satunya dari Imam Santoso dan Sudibyo, dua orang dermawan yang datang langsung ke Kupang. Mereka memberikan beasiswa, uang tunai, dan sebuah laptop untuk Margaret.
Bantuan itu bukan hanya soal materi. Itu adalah simbol bahwa perjuangan Margaret tidak terjadi di ruang hampa. Bahwa dunia melihat, dan dunia peduli. Bahwa satu mimpi bisa menyentuh hati banyak orang, dan bahkan memicu gerakan yang lebih besar.
Refleksi: Mimpi Tidak Punya KTP
Salah satu hal paling menyentuh dari kisah ini adalah bahwa mimpi memang tak kenal batas wilayah. Mimpi tidak punya KTP, tidak peduli kamu lahir di kota atau kampung, kaya atau miskin.
Margaret adalah simbol dari banyak suara yang tak terdengar. Ia mewakili anak-anak yang sering dianggap “tidak mungkin berhasil.” Ia adalah representasi dari harapan yang dipadamkan sebelum sempat menyala.
Tapi dalam diam, Margaret menjaga api itu tetap hidup. Ia memilih untuk percaya, untuk terus berusaha, dan akhirnya membuktikan bahwa semua ejekan itu hanyalah suara latar yang bisa ditinggalkan.
Inspirasi untuk Generasi Baru
Kisah ini bisa jadi cermin bagi banyak orang tua, guru, dan masyarakat. Kadang niat baik bisa tersamar dalam bentuk peringatan atau larangan. Tapi ketika kita mematahkan semangat anak-anak muda dengan berkata “jangan terlalu tinggi mimpi,” kita sedang merampas potensi terbaik bangsa.
Margaret membuktikan bahwa mimpi harus dirawat, bukan direndahkan. Ia mengingatkan kita bahwa keberhasilan tidak selalu tumbuh dari tempat yang nyaman, tapi justru dari tempat-tempat yang penuh luka dan perjuangan.
Pesan untuk Para Pemimpi
Buat kamu yang sedang merasa terjebak, merasa tak didukung, atau bahkan dihina karena mimpi-mimpi besar yang kamu punya—ingat kisah Margaret. Kamu tidak sendirian. Kamu mungkin lahir di tempat yang sederhana, tapi kamu tidak harus menetap di sana selamanya.
Bergeraklah. Daftarlah. Usahalah. Dunia kadang baru memberikan jalan setelah kita melangkah duluan.
Akhir Kata
Kisah Margaret bukan hanya tentang satu anak perempuan dari Kupang yang masuk UI. Ini adalah cerita tentang keyakinan, tentang melawan keterbatasan, dan tentang keberanian untuk tetap bermimpi di tengah ejekan.
Kalau kamu membaca tulisan ini dan merasa terinspirasi, mungkin sudah waktunya untuk berhenti mendengarkan suara yang merendahkan—dan mulai mendengarkan suara di dalam diri yang berkata, “Aku bisa.”