
Bulan Agustus selalu membawa suasana yang berbeda di Indonesia. Begitu kalender bergeser dari Juli ke Agustus, hawa kemerdekaan mulai terasa. Jalan-jalan dipenuhi warna merah putih. Gapura di kampung dihiasi janur, kain berwarna, dan umbul-umbul yang bergoyang tertiup angin sore. Bendera berkibar di halaman rumah-rumah, sementara anak-anak mulai sibuk latihan drumband di sekolah.
Suara pukulan bass drum dan tiupan terompet yang kadang masih sumbang jadi musik latar sore hari. Di beberapa kota, jalan utama sudah disiapkan untuk pawai budaya atau karnaval 17 Agustus. Ada parade kostum daerah, rombongan sepeda hias, penampilan marching band sekolah, hingga mobil hias dari instansi pemerintahan atau komunitas lokal.
Suasana ini bukan hanya tentang perayaan, tapi juga tentang rasa kebersamaan. Orang-orang berkumpul di pinggir jalan, tertawa bersama, memberi tepuk tangan pada peserta yang lewat. Anak-anak berlarian sambil memegang balon, sementara penjual es dan jajanan mengais rezeki di tengah keramaian.
Di tengah semua ini, satu kenangan lama muncul di kepala saya. Sebuah parade yang tidak terjadi di Indonesia, tapi anehnya, dulu jadi bagian dari tontonan tahunan saya. Parade itu tidak ada hubungannya dengan Agustus atau kemerdekaan Indonesia, tapi semangatnya mirip: Parade Pasadena yang dulu sering disiarkan di TVRI.
Televisi Hitam-Putih & TVRI Era 80–90an
Mari kita kembali ke tahun 80-an. Saat itu, televisi di rumah saya masih hitam-putih. Layarnya cembung, ada dua knob besar untuk memindah saluran dan mengatur volume. Antena dipasang di atap rumah, dan kalau gambar mulai “bersemut”, biasanya ada anggota keluarga yang harus memutar antena sambil teriak dari atap, “Udah? Udah bagus belum gambarnya?”
Pilihan saluran cuma satu: TVRI. Tidak ada remote, tidak ada ratusan channel, apalagi streaming. Jadwal acara pun terbatas, tapi justru karena itulah setiap tayangan terasa berharga. Kalau ada acara istimewa, keluarga akan duduk bersama di ruang tamu, menontonnya dengan antusias.
Salah satu acara yang selalu saya tunggu di awal tahun adalah Tournament of Roses Parade dari Pasadena, California. TVRI menayangkannya sebagai rekaman atau siaran tunda, biasanya tepat setelah pergantian tahun. Rasanya mewah sekali melihat parade sebesar itu, apalagi kalau dibandingkan dengan pawai yang biasa saya lihat di jalanan kampung.
Pertama Kali Melihat Parade Pasadena
Saya tidak ingat pasti tahun berapa pertama kali menontonnya. Mungkin sekitar pertengahan 80-an. Tapi yang saya ingat jelas adalah rasa takjub. Walaupun televisinya hitam-putih, parade itu tetap terlihat indah.
Float raksasa lewat satu per satu, dihiasi bunga-bunga yang disusun membentuk bentuk-bentuk luar biasa—kapal, kastil, bahkan robot. Marching band dari berbagai negara memainkan lagu-lagu penuh semangat. Ada juga parade kuda, dengan penunggang berkostum koboi atau pakaian tradisional yang rapi.
TVRI kadang menambahkan narasi atau teks di layar, memberi tahu dari negara mana marching band itu berasal, atau siapa Grand Marshal parade tahun itu. Nama-nama seperti Frank Sinatra, Pelé, atau Shirley Temple muncul sebagai Grand Marshal di tahun-tahun berbeda—sesuatu yang membuat parade ini terasa “internasional” dan glamor bagi penonton kecil seperti saya.
Fakta Singkat Tentang Tournament of Roses Parade
Bagi yang belum tahu, Parade Pasadena atau Tournament of Roses Parade adalah tradisi tahunan di Pasadena, California, yang pertama kali digelar pada 1890. Parade ini diadakan setiap 1 Januari (kecuali jika tanggal itu jatuh pada hari Minggu, maka digeser ke 2 Januari).
Ciri khas parade ini:
- Float bunga: Semua dekorasi pada float harus dibuat dari bahan alami—bunga, daun, biji, atau bahan organik lainnya.
- Marching band internasional: Diundang dari berbagai kota dan negara, memberi warna budaya yang beragam.
- Parade kuda: Penunggangnya biasanya mengenakan kostum khas atau seragam tradisional.
- Grand Marshal: Tokoh terkenal yang memimpin parade, dari selebritas Hollywood hingga legenda olahraga.
Setelah parade selesai, float biasanya dipamerkan di acara Floatfest, di mana pengunjung bisa melihat detail dekorasi dari dekat.
Mengapa Parade Ini Spesial untuk Penonton Indonesia di Era Itu
Bagi anak Indonesia di era 80–90an, melihat parade seperti ini adalah jendela ke dunia luar. Kita tidak punya akses mudah ke TV kabel atau internet. Melihat float raksasa yang semuanya dihiasi bunga asli adalah hal yang luar biasa.
Marching band dengan seragam rapi dan formasi sempurna memberi kesan profesionalisme yang jarang kita lihat di parade lokal. Bahkan parade kuda pun terasa eksotis. Semuanya membentuk gambaran bahwa di luar sana ada tradisi besar yang berbeda tapi memiliki semangat yang sama dengan perayaan di sini.
Kenangan Khusus & Tahun-Tahun Berkesan
Beberapa momen yang membekas:
- Tahun 1980: Float Cal Poly “Hard Rock” yang memenangkan Founders’ Trophy. Desainnya unik dan sering muncul di rekaman nostalgia.
- Tahun 1984: Grand Marshal Danny Kaye, parade ini salah satu yang paling sering diputar ulang.
- Tahun 1985: Lee Iacocca menjadi Grand Marshal, parade ini penuh float bertema teknologi.
- Tahun 1987: Pelé memimpin parade, membuat para pecinta sepak bola seperti saya sangat antusias.
- Tahun 1989: Shirley Temple, mantan aktris cilik, menjadi Grand Marshal.
Kadang saya masih ingat bagaimana orang tua berkomentar melihat float tertentu. “Wah, ini kalau di sini pasti sudah rebutan bunganya,” kata ayah sambil tertawa. Ibu biasanya kagum dengan warna-warninya—meski kami menontonnya di layar hitam-putih!
Foto & Footage yang Menghidupkan Nostalgia
Sekarang, dengan YouTube dan arsip foto online, parade-parade itu bisa kita lihat lagi.
Foto-foto era 80-an menunjukkan float penuh bunga, marching band internasional, dan penonton yang memadati Colorado Boulevard. Warna-warninya luar biasa, tapi yang menarik, melihatnya membuat saya langsung membayangkan versi hitam-putih di TVRI dulu.
Video yang direkomendasikan untuk nostalgia:
- 1984 Pasadena Tournament of Roses Parade (Grand Marshal Danny Kaye)
- 1986 Parade dengan rangkaian float spektakuler
- 1988 Parade* yang penuh desain kreatif
- Float Cal Poly 1980 “Hard Rock” yang legendaris
Menonton ulang video-video ini seperti kembali ke ruang tamu masa kecil, duduk di lantai beralas tikar, dengan suara parade dan narasi TVRI yang khas.
Dari Pasadena ke Agustus di Indonesia
Lucunya, meskipun Parade Pasadena adalah acara Tahun Baru, saya selalu mengaitkannya dengan suasana Agustus di Indonesia. Mungkin karena sama-sama parade. Sama-sama ada keramaian di jalan. Sama-sama punya elemen kreatif di kendaraan hias dan penampilan musik.
Di Pasadena, mereka merayakan awal tahun dan bunga-bunga musim dingin. Di Indonesia, kita merayakan kemerdekaan dan semangat persatuan. Bedanya, di sini float-nya bisa berupa truk dihias kertas warna-warni, sepeda motor dibalut kain merah putih, atau anak-anak berkostum pahlawan nasional.
Tapi rasa yang ditimbulkan sama: kebersamaan, kegembiraan, dan kebanggaan akan identitas masing-masing.
Penutup: Kenangan yang Selalu Melekat
Sekarang TVRI sudah jarang menayangkan Parade Pasadena. Orang bisa menontonnya langsung via internet atau saluran internasional. Tapi bagi saya, versi yang paling berkesan tetap yang saya tonton di televisi hitam-putih itu.
Bukan hanya karena paradenya indah, tapi karena ia menjadi bagian dari masa kecil saya. Sebuah acara yang menghubungkan ruang tamu di kampung kecil di Indonesia dengan jalan besar di Pasadena, ribuan kilometer jauhnya.
Dan setiap kali Agustus tiba, ketika saya berdiri di pinggir jalan menonton karnaval HUT RI, saya selalu teringat kembali pada float bunga, marching band, dan parade kuda di Pasadena—dan bagaimana, di masa itu, parade itu memberi warna pada awal tahun saya.
Mungkin karnaval, di mana pun ia diadakan, punya bahasa universal yang sama: merayakan hidup, budaya, dan kebersamaan. Dari gapura merah putih di desa, sampai Colorado Boulevard di Pasadena, semangatnya tetap sama